11. Dunia Yang Baik (?)

Friday, January 16, 2015

0 comments


Ada jenis dusta
yang tersimpan
di muka bibir
Meski terlihat
tidak terucap
lidah gagal mengeja

Kala itulah
anak memulas gincu
dan yang lain
perpanjang misai
Samarkan caci
menjadi gemas

Dusta di bibir
bukan berarti
cacat di hati
hanyalah saja
baik buruk
berubah samar;

dunia mulai buat anak bimbang

10. Tahun Yang Biasa Saja

Thursday, January 15, 2015

0 comments


Tidak semua bisa diingat
Karena beberapa memori menyatu
bersama tangisan hujan yang rintik
yang cepat menghilang ke dalam tanah
tidak cukup deras untuk tinggalkan harum
ataupun juga membecekkan
apalagi datangkan banjir

Tidak apa-apa jika tidak ingat
mungkin memang tidak ada hujan
yang mengaduk-balik tanah
toh hujan tetap suburkan lahan
tumbuhkan sedikit hijau
maknai eksistensinya
jalankan hakikatnya

Paradoks

Thursday, November 20, 2014

0 comments

PARADOKS

Aku mengerti
tetapi aku juga tidak mengerti

Mengapa?

Karena aku
tidak mengerti dalam kemengertian
dan
mengerti untuk tidak mengerti

Mengapa?

Kuakui,

alasan sedang mencari alasan
dan jawaban tidak menjawab

Mengapa begitu?

Jika alasan mencari alasan
dan jawaban menolak menjawab
Maka hatilah sebabnya

Pikiran membenahi alasan
beri justifikasi hati

Ada apa dengan hati?

Sepertinya hati sedang tak puas
dan
ketidakpuasan
sedang mencari hati

(Tembi, 2014)

Unsaid love: "Yellow Chrysanthemum"

Monday, October 13, 2014

0 comments


It was a fine afternoon. I was walking home from work under the warm 3 p.m. sun when I saw a man kneeling on the greens behind an open light-brown fence. He was gardening.

I slowed down and tried to get a better look of what he was doing. He was trimming the bushes.


I realized something. His hands were so rough -it was big and bumpy, with many cuts. I was mystified by how his rough hands grow such beautiful colors.


But I walked past him anyway.

He was just an ordinary gardener, I thought.


Days flew. I hadn't walked pass that place for days. I decided to take a brief stroll that weekend, under the clear-blue 3 p.m. sky, just to see if the gardener was there. I thought I was just a little curious about his hands.


The gardener was there.

He was holding a handful of seeds. His rough hands looked like they were about to crush those offspring.
I shivered at the thought of it.


But he was just an ordinary gardener, I thought.



I was about to leave,
when he called me,
and handed me a small, dirty bag.

   "I think you'd love this flower, Miss."

I received the bag in bewilderment.

   "Thank you," I murmured. And I went home.


I opened the package right away as soon as I got home, and pour everything into an unused flower pot.

   "Let's see how it turns out."

For days I just put the pot under the sun and give a little water once in a while.


Sprouts started to grow.
I didn't know why but I wanted to tell the gardener the sprouts made it.

And so I visited that place

   "The seeds grow sprouts."
   "That's great! Please bring it over so I can check on it."

I went home with a smile.


   "Are you a gardener?" I asked the next day.
   "Yes. I come from a family of plant-lover, and this garden is my father's Eden."
   "I see. It must be amazing."
   "You can come inside if you want. Lots of beautiful flowers."

And lots of beauties indeed.


I couldn't resist not coming since. I'd grown to love the flowers. Sometimes the gardener would gave me a hug-able bunch of lilies, or roses, or baby's breath to take home.

I often watched him work. Planted something, trimmed some leaves, watered from corners to corners.
I looked at his hands. They didn't look so rough, after all. They seemed gentle, instead. And I thought the flowers thought so too.

Now he didn't look so ordinary to me.


One day I visited him like usual. But he was nowhere to be seen.

I brought my ready-to-bloom yellow flower pot. He promised to give some minerals so it would grow even more beautiful.


I walked towards the back of the garden.

And there he was, at the very corner of it.
   "Hi, I've brought my flower pot, as promised."
   "I'm sorry, I'm busy now. Just put your pot over there, will you? Beside the spiders. I'll take care of it."
   "What are you planting?"
   "Just some grass."

I left in confusion.

   "Hi, have you put some vitamins on my flowers?" I came the next day.
   "Sorry, I haven't had the time to. Just come tomorrow, I'll be tending to it."

Again, I left. This time I was sad.


   "Are you still busy?" I asked, after many next visits of disappointment.
   "Yes, my dear.."
   "But you promised."
   "But I'm still busy. Some plants are sick. They need me."


And I was sick of waiting, too. I took my sad-looking pot, and stomped in anger.
I thought he was no ordinary gardener. I thought he cared about my flower pot. And me.

After all, he was the one who gave it to me. I didn't like people giving me false hopes.


Finally, the flower bloomed. It was indeed beautiful.

But what is beauty without a willing spectator.
And what is love without a devoted admirer.


So I decided to give the flower pot back.

I realized, the flower had never stood for itself.
   "It blooms beautifully, but I don't think I love it."
   "So you don't like it, my dear?"
   "I do. I just can't seem to love it. I'm giving it back to you."
   "Well then.."
   "By the way, you never told me what it's called."
   "It's a yellow Chrysanthemum."
   "Oh."


It was a slighted love after all.

As the Chrysanthemum grew and bloomed, there was a necessity to decline any amorous advances.
Brief sweet beginnings.


And in time, I'll learn not to miss them.

Mengkritisi Institusi Pendidikan Indonesia: "Dedikasi yang Hilang (Sadarkah Mereka?)"

Thursday, September 25, 2014

0 comments

Terlahir sebagai anak pertama yang mendapatkan atensi penuh dari orangtua membuat saya jadi anak yang egois (sedikit kok) dan menyukai kemudahan. Sampai pertengahan usia belasan, saya secara tidak sadar selalu "diselamatkan" oleh keadaan (yang kembali lagi diadakan oleh orangtua saya melalui orang lain). Ini membuat saya menjadi anak yang sok mandiri, yang, akan tetapi, teledor.

Di masa SD saya sudah banyak kehilangan barang. Saya kehilangan dompet, looseleaf berisi kertas warna-warni (dulu kepemilikan looseleaf yang tebal dan berisi kertas dengan bermacam gambar dan warna menjadikanmu salah satu orang terkeren disamping pemilik handphone dan endorser barang-barang Planet Surf), dan tepak penuh dengan bolpoin warna yang saking penuhnya retsleting pun meregang nyawa untuk menjaganya untuk tetap tertutup.

Namun itu adalah keteledoran yang 30% kesalahan saya dan 70% niat buruk si pencuri. 30% karena saya membawanya ke sekolah, bertukar koleksi (memamerkannya), dan meninggalkannya saat jam istirahat.

Saat saya masuk SMA, saya merantau jauh dari rumah, hidup sendiri (tetap dengan diselamatkan oleh katering dari budhe saya), dan belajar untuk sedikit lebih bertanggung jawab. Saya tidak kecolongan apapun, namun saya malah naik level rupanya.

Beberapa barang saya menghilang di dalam kamar saya sendiri, tepat setelah saya gunakan. Barang-barang seperti modem, kaus kaki, sampai pinset yang tidak pernah saya bawa keluar dari kamar menghilang, membuat saya mengobrak-abrik seluruh isi kamar. Saya sempat percaya teori dari suatu novel fiksi karya Cecelia Ahern, "A Place Called Here" bahwa ada suatu tempat di ujung dunia sana yang adalah semacam lubang hitam yang menarik masuk barang-barang sehingga hilang secara misterius.

Namun terkadang benda yang saya kira sudah harus direlakan muncul lagi di tempat yang tidak wajar. Seperti ketika saya menemukan kalung saya di kotak sepatu. Aneh ya?

Ketika kita kehilangan suatu benda, kita akan menyadarinya karena munculnya kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi karena ketiadaan fisik benda itu. Itulah yang memercikkan kesadaran kita. Kebutuhan namun ketersediaan yang nihil, padahal di benak asumtif kita, harusnya ada.

Itu juga yang terjadi di banyak aspek di Indonesia. Ambil contoh, pendidikan. Ibaratkan guru dan fasilitas institusi pendidikan sebagai barang atau komoditas. Sejauh kita tidak membutuhkannya, kita akan terjerat ilusi bahwa barang itu, guru dan fasilitasnya tersedia dengan baik. Namun ketika kita akan masuk, atau sudah masuk ke dalam institusi pendidikan tersebut, barulah kita menyadari bahwa komoditas yang kita perlukan tidak tersedia. Ironisnya yang paling menyadarinya adalah siswa-siswa. Karena kami lah yang membutuhkan. Berbagai cara kami pakai untuk menyadarkan institusi dan pemerintah bahwa ada absensi dalam komoditas, atau adanya komoditas, namun absennya kualitas. Namun percuma, mereka tidak membutuhkannya. Tidak akan ada percikan kesadaran.

Contoh lain adalah perusahaan multinasional di Indonesia. Mengapa Sampoerna Group, Kompas Gramedia, dan Ciputra Group mendirikan universitas yang mereka kelola sendiri? Karena mereka sadar bahwa berkembangnya perusahaan bergantung pada sumber daya manusia yang kompeten, dan mereka tidak puas dengan sdm yang ada, maka dari itu mereka menciptakan sdm yang mereka bina sendiri, yang diharapkan hasilnya sesuai dengan ekspektasi standar perusahaan masing-masing.

Lalu kemanakah orang-orang berkompeten yang seharusnya masih ada di Indonesia? Ketika kita bertanya seperti ini, terkesan seperti Indonesia lah yang kehilangan mereka. Namun jauh sebelum itu, hati mereka telah kehilangan kepercayaan terlebih dahulu, bahwa Indonesia, secara sadar atau tidak sadar, tetap membutuhkan mereka. Namun memang sulit untuk tetap bertahan saat kehadiran kita tidak disadari, tidak dihargai, dan tidak difasilitasi. Hanya dedikasi atau comfort zone yang akan menambat pengabdian.

Karena tidak mendapat penghargaan dan merasa tidak dibutuhkan, para tenaga ahli ini tertarik oleh magnet alam, tersedot masuk ke lubang hitam, ke tempat nun jauh disana, melintasi langit dan awan, di mana di sana memang mereka yang dulunya terbengkalai dan kemudian dianggap hilang di tempat asalnya, kini mendapat tempat dan pengakuan yang sepantasnya.

Menghapus Sketsa(l)

Wednesday, September 24, 2014

0 comments

Terhitung setahun sejak Ia membeli benda yang begitu Ia idamkan. Dan sudah setahun pula Ia selalu memandangi benda itu di atas tumpukan benda-benda lain yang kurang berarti. Seakan tak ingin kehilangan rasa cintanya itu, Ia senantiasa menyempatkan waktu untuk berdiri dari nyamannya kursi, hanya untuk sekedar mengamati benda itu sedari dekat, serta, lima menit kemudian, mengambil kemoceng kecil untuk membersihkannya dari debu.

Ia selalu mengunjungi benda itu layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk musim. Tak mungkin rasanya Ia berpisah dengan benda yang telah menambat kekagumannya, menjadi inspirasinya, memacu imajinasinya, dan menyandera kenangannya.

Mungkin firasat sedang bercanda dan iseng di sore hari itu. Di bawah langit yang berwarna biru-ungu-jingga, Ia melepaskan beda itu pada seseorang teman yang mungkin juga sedang dengan iseng berkonspirasi dengan keisengan sang firasat.

Tak terpikir olehnya saat itu bahwa Ia akan menjadi seperti seorang Robert dan terus menanti-nantikan Clara, sang inspirasinya yang tengah disandera ayahnya, untuk jatuh ke dalam pelukannya kembali (kembali karena diasumsikan paling tidak mereka sudah berpelukan satu kali sebelum direstui untuk menikah. Robert kan sudah sering ke rumah Clara).

Satu tahun sudah penantiannya. Firasat telah insaf dan kembali membawakan potongan-potongan fakta yang ia sembunyikan dari mata pikiran dan mata hati. Bergegas Ia menelepon seseorang teman ini untuk segera mengembalikan benda, yang Ia sadari sekarang sedari awal memang dipinjam tanpa harga apresiasi, alias iseng itulah.

Serendah harga apresiasi seseorang teman inilah juga kepeduliannya tentang waktu penantian. Berbulan seseorang teman ini habiskan untuk, ujarnya, "Menyelesaikan kekaguman saya akan milik anda ini."

Terbersit di benak Ia bahwa, "Mungkin seseorang teman saya ini meminjam benda itu atas dasar kekaguman pada saya, dan berakhir pula harga apresiasi benda itu bersamaan dengan pertemanan saya dan seseorang teman ini."

Mungkin memang begitu. Jika tidak, apakah ada keperluan bagi seseorang untuk menghabiskan dan menyelesaikan sisa kekagumannya kepada sesuatu yang seharusnya mengagumkan baginya? Bagi Ia, menyelesaikan sama dengan mengakhiri dan memusnahkan karena sudah tiada lagi kenangan sejarah yang berarti.

Ah, Ia tak peduli. Satu-satunya hal yang masih menambat kekagumannya adalah benda itu. Maka hanya benda itu yang Ia nantikan.

Serasa lewat sedasawarsa, akhirnya Ia kembali mengagumi benda itu. Namun ada tambahan tak artistik yang melanggar sopan santun di sana.

Sepertinya seseorang teman ini ingin mengekspresikan kekagumannya yang ternyata tersendat di tengah jalan; kekaguman yang lebih subyektif dari subyektifitas, yang berusaha seseorang teman ini tinggalkan untuk diperhatikan.

Tak pikir panjang dan banyak melihat, Ia menghapus sketsa kekaguman dan pencemaran yang subyektif itu dengan penghapus. Namun Ia tahu, seseorang teman ini belum menyelesaikan kekagumannya pada Ia. Karena seseorang teman ini tidak menyelesaikan, maupun menghapus sketsa yang tersendat di tengah jalan itu.

A Muse For My Dreams

Thursday, September 18, 2014

0 comments

A Muse For My Dreams


In one of those uninspired nights
a bluebird perched
Under his claws were threads, swaying

Colors floating
Breeze dancing

Then he snapped!

in a millisecond of an eye blink

Taking a flap
and left a bluish tingle
of dreams aflight

Tenggat Waktu

Thursday, August 21, 2014

0 comments


Ketika abjad melancong semalam suntuk
tinggalkan secoret tinta kopi

Putih-abu-cokelat-kuning-hitam, putih-abu-cokelat-kuning-hitam
Hanya bisa sabar, menanti mereka pulang

Siapa tahu kepala dingin menarik
uap panas embunkan abjad kemari

Bawa seteguk karya kata, atau
bungkus kopi kedua dari tempat melancong


(Parangtritis, 2014)